Selamat Jalan Saudaraku…



Pekerjaan saya mengharuskan saya duduk setiap hari, mulai pagi hingga sore. Bersosialisasi dengan berbagai kalangan dan dengan orang berbagai macam karakter. Sebenarnya sangat menjenuhkan, tapi saya harus bisa menerimanya. Karena inilah pekerjaan saya, dan saya harus bisa mencintai pekerjaan saya, karena itu bentuk loyalitas saya pada bos saya. Jadi intinya saya harus tetap semangat dalam bekerja. Agar kebosanan itu manjauh dari saya.

Pekerjaan saya juga mengharuskan saya banyak bicara, padahal sebenarnya saya ini termasuk orang yang tidak suka banyak bicara. Saya juga harus berpartner dengan rekan-rekan kerja saya dari perusahaan lain. Hingga saya seperti menemukan keluarga baru, sahabat dan saudara. Dan saya sangat senang bisa bersahabat dan bersaudara dengan mas Bam, partner kerja saya, bisa dibilang teman semeja saya. Karena beliau ini ditempatkan perusahaannya di tempat saya bekerja. Ada pepatah bilang “tak kenal maka tak sayang”, agaknya pepatah ini memang benar adanya. Sebenarnya sebelum mengenal mas Bam saya sudah sering bertemu dengannya saat makan siang di sebuah rumah makan. Ya karena kita tidak saling kenal, kita tidak pernah saling menyapa. Palingan Cuma saling melihat saja. Dalam hati saya dulu cuma bilang (orang ini lumayan tinggi, hidungnya mancung, tubuhnya kerempeng ). Tapi ternyata akhirnya beliau ini harus bertemu saya setiap hari, karena kita adalah partner.

Saat pertama kali dia di tempat saya, kita sama-sama tertawa karena kita sebelumnya tidak pernah saling menyapa. Kemudian kita jadi semakin akrab seperti saudara. Saya ingat betul bagaimana setiap pagi dia berjalan dengan khas lalu tersenyum kemudian menyapa saya, “halo senjaaa”, dan saya akan membalasnya dengan ucapan serupa. Sebenarnya di kalangan temen-temannya, beliau ini juga agak pendiam dan menutup diri. Tapi tidak dengan saya, karena beliau suka sekali bercerita tentang keluarganya pada saya. Tentang istrinya, anak-anaknya yang lucu, dan saya senang sekali karena beliau mau berbagi cerita dengan saya. Terkadang kalau kami sedang nganggur karena tidak ada yang dikerjain, saya meminta beliau bercerita bagaimana dulu beliau mengenal mbak Ana (istrinya). Lalu dengan semangat beliau menceritakannya pada saya. Saat masa-masa kuliahnya di Jogja dan berbagai macam kenakalan yang dilakukan. Mas Bam ini usianya sekitar 30 tahun-an, dan saya sangat mengormati beliau. Saya menganggap beliau sebagai kakak saya juga saudara saya.

Kita juga sering bercanda, saling mengejek, saling cerita dan menasehati. Terkadang saya juga suka memarahi beliau (maaf ya mas), atau juga saling berdebat tentang suatu hal. Tapi terkadang kita suka tertawa bersama dan sangat akrab, apalagi kalau kita mengisi TTS (Teka Teki Silang). Kita bisa sangat kompak sekali. Kebetulan saya suka sekali mengisi TTS dan kalau ada pertanyaan yang tak bisa saya jawab, saya bertanya pada beliau, atau saat beliau tidak bisa menjawab akan bertanya pada saya. Kita juga sering berdiskusi dengan teman-teman yang lain.

Waktu itu beliau terlihat sangat letih, saya bersama dengan rekan yang lain meminta agar tidak masuk kerja dulu agar bisa istirahat, tapi ternyata beliau masih masuk, hingga beliau sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Tapi selang satu minggu beliau kembali bekerja padahal mukanya masih terlihat pucat. Kami semua menghiburnya dan menasehatinya agar makan tepat waktu biar tidak sakit lagi. Kebetulan teman-teman kami semuanya sangat peduli dengan kesehatan beliau. Tapi karena pekerjaan yang tidak bisa lama ditinggalkan, beliau harus tetap bekerja. Hingga dua bulan berlalu dan alhamdulillah semua bisa berjalan seperti semula.

Pagi itu mas Bam mengeluh pada saya kalau tubuhnya lemas dan kepalanya terasa sakit. Saya menyuruhnya istirahat di atas dan minum obat. Sebenarnya beliau ini selalu mengkonsumsi salah satu jenis merk obat pereda sakit kepala. Jadi saya selalu meledeknya jika sakit kepala, dan menunjukkan obat itu padanya, dan semua jadi tertawa. Saya juga sering menasehati beliau agar tidak terlalu dipaksakan dalam bekerja. Tapi beliau selalu bilang kalau anak-anaknya butuh susu dan kalau di rumah terlalu bising untuk istirahat karena anak beliau yang paling kecil selalu minta digendongnya. Jadi beliau malah tidak bisa istirahat di rumah.

Keadaan benar-benar membaik saat itu, karena mas Bam mematuhi perintah dokter agar menghindari makanan tertentu. Istrinya juga sangat ketat menjaga makanan beliau. Saya ikut senang karena beliau sudah semangat lagi. Tapi ibu mertua mas Bams meninggal dunia, sebelum meninggal beliau bilang sama mas Bams kalau “ makan itu tidak perlu pilih-pilih, nanti kalau saatnya mati ya mati sendiri”. Hingga mas Bams menyontohnya dan bilang sama saya “benar ya senja, kalau makan itu tidak perlu pakai dihindari seperti itu, nanti kalau sudah saatnya mati ya mati”.  Saat beliau bilang seperti itu saya menasehatinya kalau tidak seperti itu, kita sebagai manusia harus berusaha. Mungkin bagi orang yang sehat tidak masalah, tapi beda untuk orang dengan penyakit tertentu.

Mas Bam ini kemudian menyepelekan nasehat dokter. Kebetulan saat itu udara di kota kami sangatlah panas, saat pulang istrinya kebetulan bikin es dan beliau meminumnya, bahkan satu gelas besar. Saat paginya bercerita sama saya kalau habis minum es, dan rasanya segar sekali. Saat itu saya bilang kalau mas Bam ini kan dilarang minum es sama dokter, nanti sakitnya bisa kambuh lagi, tapi beliau ini sudah merasa sehat. Dan saat saya beli rujak, karena kebetulan seorang nasabah kami memberi mangga yang pas kalau dibikin rujak, mangga itu sudah tua, dan dalamnya sudah merah, jadi tidak terasa asam meskipun belum matang benar. Kita makan rujak rame-rame, dan mas Bam yang menghabiskannya. Padahal saya sudah menasehatinya agar jangan banyak-banyak makan rujaknya.

Setelah itu beliau tidak masuk kerja lagi karena sakit dan harus opname lagi di rumah sakit, selang satu minggu beliau masuk lagi. Mukanya agak sedikit pucat, dan saya selalu menangis bila melihat wajahnya. Yang ada dalam pikiran saya saat itu saya tak akan lagi melihat senyumnya. Saya merasa tidak akan bertemu dengan beliau lagi. Tapi saya sedikit lega saat beliau masih bisa tertawa bersama kami. Dan kebetulan ada seorang rekan kerja kami yang kebetulan namanya sama dengan beliau meninggal , padahal tidak sakit apa-apa. Dia mengeluh pada saya

“Senja, hidup itu tidak bisa ditebak ya, orang yang tidak sakit tiba-tiba meninggal”

“makanya mas, harus selalu ingat sama Allah, jangan lupa sholatnya ya”

Saat itu beliau meminjam sajadah saya untuk sholat, sejak saat itu beliau rajin beribadah, saya senang melihatnya.

Di lain kesempatan beliau bercerita sama saya dan menasehati saya tentang hari kiamat.

“Senja, saya baru saja membaca buku tentang gambaran kiamat, saya sampai nangis membacanya, besok kalau saya mati semoga tidak disiksa seperti itu”

“wah, saya boleh pinjam bukunya mas?”

“Insya Allah kalau saya ingat nanti saya bawakan”

“Harus ingat ya mas”

Kemudian dia menyatakan keinginannya untuk pulang ke kampung halamannya, karena kebetulan beliau ini asli Riau. Dan sudah lama tidak bertemu dengan ibu beliau.

“Saya kangen sama ibu nja” ucapnya pagi itu

“Sudah berapa lama tidak pulang mas?”

“Terakhir pulang saat Dewa masih TK (anak beliau yang pertama), sekarang sudah kelas 2 SD”

“Sudah dua tahun ya, lama juga”

“Saya ingin ibu tinggal bersama saya, biar dekat dengan saya, tapi adik-adik saya melarangnya, pengen pulang tapi harus menabung lagi”

“Oh iya ya mas, pasti butuh biaya yang banyak, paling tidak minimal sepuluh jutaan ya mas?”

“Iya, kan harus beli tiket pesawat lima orang”

“Yang sabar dulu mas, yang penting sehat dulu, telpon ibu saja kalau kangen”

“Iya, ini saya sudah punya banyak pulsa, nanti malam saya telpon ibu, bisa bicara agak lama ini” ucapnya sambil tertawa.

Saat itu perasaan saya jadi tidak enak, saya benar-benar merasa akan kehilangan beliau. Dan saya menceritakan perasaan saya ini sama teman dekat beliau yang sudah seperti kakak saya juga. Saya bilang saya tidak tahan menatap wajah mas Bam, saya seperti melihat mayat hidup, saya merasa akan kehilangan sodara, dan saya menangis.

Pagi itu saya kebetulan ada pekerjaan yang harus saya tanyakan sama mas Bam, tapi sampai siang saya tidak melihatnya, kemudian saya menelponnya, dan beliau menjawab kalau sedang opname di rumah sakit lagi. Semua pekerjaan sementara diserahkan sama teman dekatnya. Dua minggu mas Bam di rumah sakit, dan saya belum sempat menenjenguknya karena ada urusan yang belum saya selesaikan. Hingga saya mendapat kabar kalau mas Bam sudah tidak ingat siapa-siapa. Dan terakhir saat sebelum saya berangkat ke rumah sakit, teman saya mengabari kalau mas Bam sudah pergi untuk selamanya. Saat itu juga saya menangis, saya datang terlambat, saya sangat menyesal dan merasa bersalah. Padahal beliau sudah saya anggap sebagai kakak. Adik macam apa saya ini, saya benar-benar terpukul. Paginya saya bersama rekan-rekan yang lain mengantarkan mas Bam ke peristirahatan terakhirnya. Saya tidak bisa menyembunyikan air mata saya saat mbak Ana (istrinya) memeluk saya sambil menangis, akhirnya tangisan saya pecah juga. Apalagi ketiga anak beliau masih kecil-kecil, yang terakhir belum genap 2 tahun. Saya tidak bisa membayangkan betapa sedihnya hati mbak Ana, betapa berat cobaan yang harus beliau terima, harus membesarkan ketiga buah hatinya sendirian.

Saya tak menyangka kalau pembicaraan kita tentang kematian dan keinginan mas Bam untuk pulang ke kampung halamannya adalah pembicaraan terakhir saya dengannya. Ternyata firasat saya benar adanya. Dan sekarang saya hanya bisa mengenangnya dan mendoakannya.

Mas Bam, engkau adalah sahabat, saudara, tempat berkeluh dan berkesah, tempat saya meminta nasehat dan bercerita. Mungkin persaudaraan kita di dunia hanya bisa sampai di sini. Tapi percayalah, saya akan selalu mendoakanmu selalu, agar engkau mendapat tempat terbaik di sisi-Nya. Engkau akan selalu berada di hati kami, selamanya. Engkau sahabat terbaik kami, partner kerja yang baik bagi saya. Meskipun usia mas Bam terpaut jauh dari saya, tapi mas Bam bisa menempatkan sebagai kakak yang baik. Terima kasih atas bimbingan dan persaudaraannya selama ini. Selamat jalan mas…, doa kami mnyertaimu selamanya…

Tidak ada yang abadi di dunia ini, semua yang hidup pastilah akan mati. Ada awal dan ada akhir. Semua saling melengkapi. Yang kemaren bisa tertawa, hari ini bisa menangis, begitupun sebaliknya. Kita tak pernah tahu kapan seseorang yang kita sayangi akan pergi meninggalkan kita. Hari ini kita bisa saja tersenyum dan bercanda dengan mereka, tapi siapa yang akan tahu hari esok? Tak ada yang bisa mengingkari apa yang dinamakan ” kematian “, kalau ajal telah datang pada kita, tak seorangpun bisa menundanya. Semoga Allah memudahkan kematian kita kelak menjadi kematian yang sangat indah amin…

19 thoughts on “Selamat Jalan Saudaraku…

  1. Semoga amal ibadah sahabat mbak lalang senja diterima Allah SWT dan bagi keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan. Memang tidak mudah berpisah dari sahabat yang telah bertahun2 berkumpul bersama kita dengan segala suka dukanya. Tapi, mungkin ini adalah jalan yang terbaik yang mungkin harus dijalani

  2. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Sedih banget ceritanya.

    Tapi walau pun kematian udah ditentukan, tubuh kita punya hak terhadap kita. Gak bole disepelekan begitu aja… Kita punya kewajiban untuk merawat tubuh kita untuk tetap sehat. Begitulah kita menunaikah hak tubuh kita.

  3. Innalillahi wa inna ilai hirojiun
    turut berduka cita yg mendalam
    semoga almarhum diampuni segala dosanya dan diterima amal ibadahnya

    saya juga eprnah kehilangan sahabat baik
    sampai sekarang rasanya masih merasakan sedih

  4. Innalillahi waiina ilahi rojiun..
    Turut berduka cita mbak..
    Semoga amal ibadah diterima disisiNya dan tabah untuk mbak anna dan segenap keluarga…

    Kita benar2 gak tau kapan ajal akan tiba..
    namun pasti tiba T_T

  5. Innalillahi wa inailaihi rojiuun..
    Semoga arwah Mas Bam mendapat tempat terbaik di sisi alloh Swt ya Senja…

  6. Turut berduka cita, Mbak,,
    Makanya kita harus ingat menjaga diri ketika sehat,
    dan selalu mendekatkan diri kepadaNya dengan hati ikhlas..
    Salam..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s