Kiriman Buku

Ternyata memulai menulis itu susah sekali ya? Apalagi kalau sudah lama kita tidak menulis. Saya juga heran kenapa setiap hendak menulis dan sudah duduk manis di depan laptop, jari-jari saya terasa kaku karena otak saya tidak mampu mengirimkan signal ke ujung jari-jari saya, padahal sebenarnya banyak sekali yang ingin saya tulis di sini. Dan ujung-ujungnya saya malah main game :mrgreen:

Tapi hari ini saya sangat semangat untuk bercerita, karena kedatangan pak pos ke tempat saya. Sebenarnya sempat heran karena saya pikir pak pos akan mengirimkan katalog belanja dari Bank. Padahal kemaren sudah saya terima. Tapi setelah mendekat, ternyata pak pos memberikan sesuatu yang terbungkus amplop warna coklat, dan yang pertama kali menerima adalah teman saya. Ehhh ternyata ada nama saya di situ, dan setelah saya baca pengirimnya ternyata mas Usup Supriyadi. Dan setelah saya buka isinya adalah sebuah buku fiksi klasik karya Leo Tolstoy. Terima kasih banyak ya mas Usup atas hadiahnya ini :) . Saya senang sekali dan langsung membacanya sampai habis.

Karena ini masih dalam suasana bulan syawal, meskipun sudah telat, saya ucapkan SELAMAT IDUL FITRI 1431H, Mohon Maaf Lahir & Batin jika tanpa sengaja ada kesalahan. :)

*) gambar sorryman saya nemu pas search by google

Rasa Bahagia…

Pagi ini saya merasa sangat bahagia hanya gara-gara sebuah SMS. Cuma karena SMS singkat dari adik saya Pelangi bisa membuat saya tersenyum :) , SMS dari adik saya itu bunyinya seperti ini

“meT ulT4h e0 mb4k, k4d0Ny4 eZ nX uM4h, d k4m4R Mb4K”

Itu adalah SMS dari Langi, meskipun terkadang saya susah membacanya, tulisannya alay seperti itu, kadang sampai nanya sama temen saya, dan teman saya juga tidak bisa membacanya, hehe…, meskipun berkali-kali saya bilangi Langi agar nulis yang bener tapi tetap saja seperti itu. Saya khawatir nanti jadi terbiasa,  saat mengerjakan ulangan di sekolah nulis juga seperti itu, bisa-bisa gurunya jadi pusing tujuh keliling membacanya :mrgreen:

Saya tidak menyangka Langi bisa ingat hari ulang tahun saya, dan punya inisiatif memberikan kado. Langit saja tidak pernah mengucapkan selamat ulang tahun pada saya. Mungkin dia juga tidak ingat kapan saya lahir. Jadi teringat saat kecil, dulu ulang tahun saya sering dirayakan sama Ibu. Semua teman-teman sekolah saya diundang, setelah berdoa bersama, kita mendengarkan ceramah dari ustad yang sengaja didatengin Ibu untuk menasehati kami semua. Setelah semua selesai saya akan memilah-milah kado, mana yang akan saya simpan, dan mana yang akan saya bagikan pada teman-teman. Dan terakhir saya merayakan ulang tahun saat saya berusia tujuh belas. Kebetulan saat ulang tahun yang ke tujuh  belas itu saya sudah semester 1, jadi saya merayakannya bersama teman-teman saya, tidak dengan Ayah dan Ibu saya. Meskipun kami cuma makan-makan saja di McD**, saya tetap senang bisa berbagi kesenangan dengan teman-teman.

Tapi itu semua sebelum saya mengerti arti ulang tahun. Setelah ulang tahun yang ke tujuh belas itu, saya tidak pernah merayakannya. Justru saya merasa sedih karena jatah hidup saya jadi berkurang, sementara saya masih begini saja. Saya merasa belum bisa menjadi yang terbaik, bagi agama saya, bagi kedua orang tua saya, bangsa saya. Saya merasa termasuk orang yang rugi, sementara banyak orang di luar sana yang sudah sering berbuat banyak tentang hal kebaikan bagi sesamanya. Saya benar-benar merasa malu, saya sangat malu pada Tuhan saya, saya malu sama semuanya. Saya merasa baru sedikit sekali amalan saya yang saya tabung buat akherat kelak. Sementara waktu itu terus saja berjalan dengan cepat. Menggenlinding seperti roda yang tanpa bisa dihentikan lajunya, dan umur saya berkurang setiap harinya.

Ya Allah…, saya takut sekali jika tabungan saya di akherat belum cukup tapi Engkau telah memanggil saya. Saya sangat bersyukur sekali masih diberi kesempatan sampai hari ini untuk bisa terus menghirup hawa duniaMu, kesejukan nafasku juga masih terasa olehku. Saya ingin di hari kelahiran saya ini sebagai penanda bagi saya agar bisa berbuat lebih baik lagi. Berikanlah segala kemudahan bagi saya, berikanlah kebahagiaan pada orang-orang di sekitar saya, Ayah, Ibu dan adik-adik saya. Teman-teman dan saudara saya. Dan semua orang yang membaca tulisan saya ini, Amin….

Ya Allah.., sebentar lagi bulan penuh rahmat dan ampunan akan tiba, maka berilah kesempatan pada saya untuk bisa menabung di akherat lebih banyak lagi dan bisa mendapat ampunanMu…

Karena Ramadhan sudah di ujung mata, maka dengan kerendahan hati saya mohon maaf atas segala khilaf, semoga masih ada usia hingga akhir Ramadhan, dan semoga ampunan  rahmat Allah senantiasa terlimpah bagi kita semua… Amin… Marhaban ya Ramadhan…

Sekolah

Apa yang ada dalam bayangan Anda saat mendengar kata “sekolah”? mungkin yang ada dalam bayangan kita adalah kita menuntut ilmu dan memiliki banyak teman. Begitulah yang ada dalam bayangan saya tentang sekolah. Dengan sekolah saya bisa pintar, bisa meraih cita-cita kita. Meskipun mennuntut ilmu itu tidak dengan harus sekolah saja. Tapi setidaknya dengan bersekolah kita jadi semangat untuk belajar karena memiliki banyak teman.

Saat ini saya senang sekali karena adik saya Pelangi lulus dengan nilai yang bagus menurut saya. Sebenarnya ia ingin sekali masuk  SMP favorit di kota kami. Kebetulan sekolah itu sudah RSBI, tentu saja Langi sudah lolos seleksi dengan beberapa teman sekolahnya. Namun sayang sekali biaya yang harus dikeluarkan sangatlah besar, mencapai puluhan juta. Dan itu jelas sekali memberatkan ayah saya. Ayah hanya seorang kuli, dan meskipun saya siap membantu, tapi alangkah baiknya kalau uang itu saya tabung buat kelak jika Langi masuk kuliah. Alhamdulillah Langi bisa mengerti dan berpikir dewasa. Langi mau sekolah di mana saja asal tetap bisa sekolah. Dan rencananya akan masuk SMP yang lain, meskipun bukan SMP terfavorit, tapi masuk SMP unggulan juga di kota kami. Saya selalu menekankan sama Langi, “dimanapun kita sekolah, kalau kita rajin belajar hasilnya tak akan kalah dengan yang lulusan terfavorit sekalipun”.

More

Wijen

Wijen (Sesamum indicum L) adalah rempah semusim yang termasuk dalam famili Pedaliaceae. Tanaman ini dibudidayakan sebagai sumber minyak nabati, yang dikenal sebagai minyak wijen, yang diperoleh dari ekstrasi bijinya. Wijen di duga berasal dari Afrika tropik, kemudian menyebar ke timur hingga India dan Tiongkok.

Akar tanamannya bertipe akar tunggang dengan banyak cabang yang sering bersimbiosisdengan mikoriza VA (Vesikular-arbuskular). Tanaman mendapat keuntungan dari simbiosis ini dalam memperoleh hara dari tanah. Penampilam morfologinya mudah dipengaruhi lingkungan. Tinggi bervareasi dari 60 hingga 120cm, bahkan dapat mencapai 2-3 meter.

Batangnya berkayu pada tanaman yang telah dewasa, bentuknya segi empat, beralur, berambut, percabangan monopodial, berwarna hijau. Daun tunggal berbentuk lidah memanjang, berambut ujung dan pangkal runcing, tepi bergerigi, panjang 5-20 cm, lebar 1,5-4 cm, pertulangan menyirip, berwarna hijau. Bunga tumbuh dari ketiak daun, biasanya tiga namun hanya satu yang biasanya berkembang biak.

More

Selamat Jalan Saudaraku…



Pekerjaan saya mengharuskan saya duduk setiap hari, mulai pagi hingga sore. Bersosialisasi dengan berbagai kalangan dan dengan orang berbagai macam karakter. Sebenarnya sangat menjenuhkan, tapi saya harus bisa menerimanya. Karena inilah pekerjaan saya, dan saya harus bisa mencintai pekerjaan saya, karena itu bentuk loyalitas saya pada bos saya. Jadi intinya saya harus tetap semangat dalam bekerja. Agar kebosanan itu manjauh dari saya.

More

Kepada Usup Supriyadi

Aku begitu sering menyapamu sobat…

Saat ngengat terbang di simpang jalan

Saat matahari undur diri ke peraduan

Yah…, karena aku adalah senja

Bukankah kau suka memandangi senja?

Hei…, kapan kita kenal ya sobat?

Apakah kau ingat?

Kita kenal karena aku suka menulis

Kau pun suka menulis

Menulis adalah kehangatan…..

Dimana jiwa kita berbicara

Sedang jarak bukan lagi tabir

Dan kau tau…., aku hanya bisa membaca suaramu

Saat kita benar-benar mengunci sepi

Menuangkan mimpi…

Sobat, meski kita tak saling jumpa

Meski kita tak saling bersuara

Tapi rasakanlah….,

Senja akan selalu ada…

Mengantarmu menyerukan nama-Nya

Senja akan selalu ada….

Mengiringi sujudmu pada-Nya

Sobat… lihatlah…

Tapak-tapak waktu yang menuntaskan hari

Dengan jejak panjang membentang

Tak terasa usiamu telah berkurang

Seiring waktu yang terus saja melenggang

Saat kau menandai satu angka penanggalan

Sudah seharusnya kau berbenah diri

Sobat…,jika begitu banyak jalan terbentang di hadapanmu

Janganlah engkau tergesa-gesa dalam melangkah

Jika kau berada dalam kebimbangan

Berhentilah sejenak sobat….

Rasakan hatimu, biarkan ia menuntun langkahmu

Menuju jalan kebaikan

Met milad sobat…

Semoga Allah selalu memberikan terang pada jalanmu

Amin….

*puisi ini dipersembahkan untuk Usup Supriyadi, dalam rangka Menulis Puisi “Kepada Usup Supriyadi”

*terima kasih buat dek desya yang sudah mengajari  saya membuat puisi* ;)

Penipu lewat HP di pagi hari

Sebenarnya saya ini sudah biasa bangun pagi, agar tidak terlambat. Tapi entah ya, kok tetap saja saya ini terlambat. Ini penyakit saya lagi…, untung bos orangnya baik, (maksud saya baik, karena jarang datang pagi, jadi saya bisa lebih dulu datang) :D

Untung saja cuma terlambat lima menit, artinya belum ada nasabah yang datang, jadi saya bisa agak tenang, dan telpon juga belum berdering, artinya bos saya belum telpon, lega rasaya. Tapi baru duduk-duduk sebentar teman mekanik saya berlari-lari ke arah saya sambil teriak-teriak

More

Kartini dan Kebaya

Pada hari Kartini di tempatku diwajibkan memakai kebaya, mulai dari anak TK sampai SMA semuanya memakai kebaya. Dulu sewaktu saya masih sekolah, ibulah orang yang paling sibuk saat hari Kartini. Saat saya TK, ibu yang mendandani saya, waktu itu saya masih kecil, jadi saya mau saja dirias sama ibu, tapi setelah saya SD, saya tidak mau dirias sama ibu, karena muka saya jadi aneh. Ibu memakaikan bedak terlalu tebal. Sejak saat itu, saya mau dirias di salon saja, dari pada di sekolah ditertawakan sama teman-teman. Nah, sejak itulah ibu jadi orang yang paling sibuk mencarikan salon untuk saya. Karena biasanya salon sudah penuh dengan antrian.

More

Pulang

Seperti biasa, adik saya Pelangi SMS saya, dia ingin saya segera pulang. Saya baru nyadar, ternyata sudah dua bulan tidak pulang. Kangen juga sama dia, jadi saya putuskan hari sabtu untuk pulang ke rumah. Walaupun saya sudah packing malam hari, apa saja yang akan saya bawa, tapi selalu saja kalau sampai rumah ada yang terlupa tidak terbawa. Sepertinya ini sudah jadi penyakit saya :D

Saya lumayan kepayahan membawa barang bawaan saya. Apalagi saat harus berjalan , capek juga rasanya. Apalagi kalau sudah di terminal, banyak sekali calo bus yang sepertinya mengganggu, meskipun itu sudah menjadi penghidupan mereka. Tapi saya risih kalau harus berhadapan dengan mereka yang sepertinya sering memaksa. Apalagi saya harus menjijing dua tas, yang satu berisi baju-baju saya, dan tas yang satunya lagi adalah dunia kecil saya.  Dunia kecil saya ini selalu menemani saya kemanapun saya pergi, jadi rasanya aneh kalau saya harus meninggalkannya.

Sebenarnya saya ini malas sekali kalau harus naik bus, tapi gimana lagi, saya tidak berani berkendara terlalu jauh, dan ibu saya juga melarang saya. Kata ibu demi keselamatan saya. Biasa seorang ibu pasti selalu khawatir dengan anak-anaknya. Itulah ibu yang baik tentunya. Tapi dengan naik bus berarti saya harus menahan asap kendaraan yang mengandung timbal itu, bau rokok, bau keringat, terkadang berdesakan dengan penumpang lain. Dan yang lebih parah lagi, saya harus extra berhati-hati menjaga barang bawaan saya. Dua kali saya kecopetan saat naik bus. Hingga saya sempat dendam sama pencopet. Meskipun sekarang saya telah memaafkannya. Mungkin uang itu bukan rizki saya. Tapi bagaimanapun mengambil barang milik orang lain itu salah. Dan saya tetap benci dengan perbuatan itu. Bayangkan, dua kali saya kecopetan, dan dua kali pula saya terpaksa tidak membayar bus, karena sudah tidak ada uang lagi. Sedih sekali saat itu. Hingga saya memutuskan untuk mengerjai pencopet itu.

More

Langit Senja Pelangi

Sebagai anak tertua, saya harus bisa melindungi  adik-adik saya. Karena kebetulan saya terlahir sebagai anak pertama dari tiga bersaudara. Adik saya yang kedua bernama Langit, dan adik saya yang paling bungsu namanya Pelangi, kami sering memanggilnya Langi. Jarak saya dengan Langi terpaut lumayan jauh. Langi sekarang baru kelas enam SD. Sebetulnya dulu saya tidak ingin punya adik lagi. Tapi sewaktu saya melanjutkan sekolah ke kota lain, ibu saya jadi tidak ada satpam yang mengawasinya. Hahaha…, sebab biasanya saya hanya tidur kalau ditemani ibu. Saya tidak berani tidur sendirian saat itu. Nah saat saya sekolah diluar kota itulah saya jadi punya adik lagi.

Sebenarnya saya malu punya adik lagi, meskipun ibu saya masih muda. Saat melahirkan Langi ibu berusia 34 tahun. Jadi belum terlalu tua untuk melahirkan lagi. Meskipun malu, saat ibu mau melahirkan, saya orang yang paling cemas. Dan saat Langi lahir, wah, hati saya merasa senang sekali. Langi sangat mungil, putih,cantik dan menggemaskan. Dan saya suka berlama-lama memandangi Langi. Mahkluk sekecil itu bisa mengubah dunia ya…, bahkan saya sering terlambat sekolah bila sudah berlama-lama dengan Langi. Saat kecil Langi memang membuat semua orang jatuh hati, karena kecerdasannya. Dia juga cerewet , bawel dan suka sekali bertanya.

Tapi itu Langi saat kecil, tapi Langi yang sekarang jadi bandel sekali. Meskipun ia sangat mandiri. Saya selalu khawatir dengan Langi. Meskipun ia sekarang baru berusia sepuluh tahun, tapi badannya sangat bongsor. Dan ia juga sudah terlalu dewasa dalam berpikir. Bahkan ia sudah berpikir jauh ke depan. Meskipun ini bagus, saya tetap khawatir. Ia juga sering merasa iri. Meskipun itu sesekali. Sering bandel kalau dinasehati. Terkadang saya jadi bertengkar dengan Langi, meskipun akhirnya selalu baikan. Tapi kecemburuannya pada saya ini yang membuat saya khawatir.

More

Previous Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.